Metode Evaluasi Partisipatif dengan PRA (Participatory Rural Apraisal)

6 06 2010

Model pembangunan yang selama ini dikembangkan di Indonesia bercorak top-down approach, sehingga menempatkan masyarakat sebagai obyek pembangunan. Karena pendekatakan pembangunan yang demikian telah menempatkan masyarakat pada posisi marjinal, tidak berdaya dan pada akhirnya menjadi beban pemerintah sendiri ketika telah kehabisan sumberdayanya. Oleh karenanya diperlukan pendekatan pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan.

A. Makna Partisipatif

merupakan metode atau cara perencanaan yang melibatkan serta memfungsikan kelembagaan masyarakat secara nyata di dalam menyusun perencanaan pembangunan. Dengan cara ini diharapkan masyarakat mau dan mampu melaksanakan, memelihara, dan menindak-lanjuti hasil-hasil pembangunan.

Diharapkan dengan menggunakan dan melaksanakan metode partisipatif ini dapat mengidentifikasi semua permasalahan dan potensi yang ada di suatu wilayah, Serta dapat diperoleh suatu gambaran umum wilayah tersebut dan aspek-aspek kehidupan masyarakat yang perlu mendapat perhatian khusus dalam melaksanakan pembangunan di desa.

Sebagai suatu tujuan, partisipasi akan menghasilkan pemberdayaan, yakni setiap orang berhak menyatakan pendapat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupannya. Dengan demikian partisipasi merupakan alat dalam memajukan ideologi atau tujuan-tujuan pembangunan yang normatif, seperti keadilan sosial, persamaan hak, dan demokrasi. Oleh karena itu sebagai alternatifnya, partisipasi ditafsirkan sebagai alat untuk mencapai efisiensi dalam manajemen proyek, atau sebagai alat dalam melaksanakan kebijakankebijakan.

Sebagai implikasinya, partisipasi menyangkut pula strategi manajemen, yang dapat digunakan oleh negara dalam mencoba untuk memobilisasi sumber daya-sumber daya yang dimilikinya.

Sementara munculnya P.R.A. antara lain dilatarbelakangi oleh kritik para aktivis pengembangan dan pemberdayaan masyarakat terhadap penelitian ‘klasik’ yang lebih banyak memposisikan masyarakat sekedar sebagai obyek penelitian. Penelitian dalam P.R.A. tidak hanya entitas yang berdiri sendiri, melainkan ditanggapi sebagai bagian yang integral dalam proses keseluruhannya. Cakupan P.R.A. bukan hanya terdiri dari riset, melainkan juga perencanaan (partisipatif), monitoring, dan evaluasi.

B. Ciri Khusus Evaluasi dengan metode Partisipatif

Ciri khusus perencanaan partisipatif dapat dilihat dari adanya peran serta masyarakat dalam proses pembangunan desa. Adapun ciri-ciri perencanaan partisipatif antara lain sebagai berikut :

  1. Adanya hubungan yang erat antara masyarakat dengan kelembagaan secara terus-menerus.
  2. Masyarakat atau kelompok masyarakat diberi kesempatan untuk menyatakan permasalahan yang dihadapi dan gagasan-gagasan sebagai masukan berharga.
  3. Proses berlangsungnya berdasarkan kemampuan warga masyarakat itu sendiri.
  4. Warga masyarakat berperan penting dalam setiap keputusan.
  5. Warga masyarakat mendapat manfaat dari hasil pelaksanaan perencanaan.

C. Teknik Evaluasi Perencanaan dengan PRA (Participatory Rural Appraisal)

Lahirnya metode partisipasi masyarakat dalam pembangunan dikarenakan adanya kritik bahwa masyarakat diperlakukan sebagai obyek, bukan subyek. Metode Participatory Rural Appraisal (PRA) merupakan perkembangan dari metode-metode terdahulu, diantaranya RRA (Rapid Rural Appraisal) oleh Chambers (1992).

Pengertian

Evaluasi adalah penilaian yang diperlukan untuk menghasilkan informasi mengenai kinerja kebijakan atau usaha untuk mengetahui seberapa jauh suatu kebijakan/ program/ proyek memberikan manfaat

Appraisal adalah evaluation research. Yaitu untuk menilai konsep dan design suatu kebijakan/program/proyek yang akan dilaksanakan.

Teknik evalausai ini digunakan sebgai alat penguji proposal suatu kebijakan/ program/ proyek sebelum disetujui dan dijalankan. Jadi evaluasi yang ilakaukan sebelum kebijakan itu dijalankan.

Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan (PRA) adalah pendekatan dan metode yang memungkinkan masyarakat secara bersama-sama menganalisis masalah kehidupan dalam rangka merumuskan perencanaan dan kebijakan secara nyata. Metode dan pendekatan ini semakin meluas dan diakui kegunaannya ketika paradigma pembangunan berkelanjutan mulai dipakai sebagai landasan pembangunan di negara-negara sedang berkembang. Dalam paradigma pembangunan berkelanjutan, manusia ditempatkan sebagai inti dalam proses pembangunan. Manusia dalam proses pembangunan tidak hanya sebagai penonton tetapi mereka harus secara aktif ikut serta dalam perencanaa, pelaksanaan, pengawasan dan menikmati hasil pembangunan. Metode dan pendekatan yang tampaknya sesuai dengan tuntutan paradigma itu adalah metode dan pendekatan yang partisipatif.

Slamet (2003 : 11) menegaskan bahwa usaha pembangunan pedesaan melalui proses perencanaan partisipasi perlu didekati dengan berbagai cara yaitu : (1) penggalian potensi-potensi dapat dibagung oleh masyarakat setempat, (2) pembinaan teknologi tepat guna yang meliputi penciptaan, pengembangan, penyebaran sampai digunakannya teknologi itu oleh masyarakat pedesaan, (3) pembinaan organisasi usaha atau unit pelaksana yang melaksanakan penerapan berbagai teknologi tepat guna untuk mencapai tujuan pembangunan, (4) pembinaan organisasi pembina/pendukung, yang menyambungkan usaha pembangunan yang dilakukan oleh individu-individu warga masyarakat pedesaan dengan lembaga lain atau dengan tingkat yang lebih tinggi (kota, kecamatan, kabupaten, propinsi, nasional), (5) pembinaan kebijakan pendukung, yaitu yang mencakup input, biaya kredit, pasaran, dan lain-lain yang memberi iklim yang serasi untuk pembangunan.

Perencanaan partisipasi harus dilakukan dengan usaha :

  • perencanaan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang nyata (felt need),
  • dijadikan stimulasi terhadap masyarakat, yang berfungsi mendorong timbulnya jawaban (response),
  • dijadikan motivasi terhadap masyarakat, yang berfungsi membangkitkan tingkah laku (behavior).

Dalam perencanaan yang partisipatif (participatory planning), masyarakat dianggap sebagai mitra dalam perencanaan yang turut berperan serta secara aktif baik dalam hal penyusunan maupun implementasi rencana, karena walau bagaimanapun masyarakat merupakan stakeholder terbesar dalam penyusunan sebuah produk rencana dan kebijakan.

Mengapa PRA

  1. Adanya kritik terhadap pendekatan Pembangunan yang “ top down “ – selama ini program peembangunan masyarakat lebih banyak direncanakan oleh lembaga penyelenggara program tanpa melibatkan secara langsung warga masyarakat yang menjadi sasaran
  2. Munculnya Pemikiran tentang Pendekatan Partisipatif, Beragam pemikiran tentang pendekatan pengembangan program yang lebih Partisipatif., Apabila masyarakat dapat dilibatkan secara berarti dalam keseluruhan proses program, selain program itu menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan rasa kepemilikan warga masyarakat terhadap program lebih tinggi.
  3. PRA sebagai pendekatan Alternatif, Kebutuhan adanya metode kajian keadaan masyarakat yang mudah dilakukan untuk pengembangan programn yang benar benar menjawab kebutuhan masyarakat setempat, Kebutuhan adanya pendekatan program pembangunan yang ebrsifat kemanusiaan dan berkelanjutan.

Manfaat dan Tujuan

Tujuan Praktis adalah menyelenggarakan kegiatan bersama masyarakat untuk mengupayakan pemenuhan kebutuhan praktis dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, sekaligus sebagai sarana proses belajar tersebut.

Manfaat Peningkatkan peran serta masyarakat dalam perencanaan pembangunan. Karena pembangunan itu nantinya diperuntukan bagi masyarakat itu sendiri.

Prinsip PRA

1. Saling belajar dari kesalahan dan berbagi pengalaman dengan masyarakat

Prinsip dasar PRA bahwa PRA adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ini berarti bahwa PRA dibangun dari pengakuan serta kepercayaan masyarakat yang meliputi pengetahuian tradisional dan kemampuan masyarakat untuk memecahkan persoalannya sendiri.

2. Keterlibatan semua anggota kelompok, menghargai perbedaan dan informal

Masyarakat bukan kumpulan orang yang homogen, namun terdiri dari berbagai individu yang mempunyai masalah dan kepentingan sendiri. Kegiatan PRA dilaksanakan dalam suasana yang luwes, terbuka, tidak memaksa, dan informal.

3. Orang luar sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai pelaku

Konsekuensi dari prinsip pertama, peran orang luar hanyasebagai fasilitator, bukan sebagai pelaku, guru, penyuluh, instruktur, dll.

4. Konsep triangulasi

Untuk bisa mendapatkan informasi yang kedalamannya dapat diandalkan, bisa digunakan konsep triangulasi yang merupakan bentuk pemeriksaan dan pemeriksaan ulang (check and recheck). Triangulasi dilakukan melalui penganekaragaman keanggotaan tim (disiplin ilmu), sumber informasi (latar belakang golongan masyarakat, tempat), dan variasi teknik.

5. Optimalisasi hasil

kuantitas dan akurasi informasi sangat diperlukan agar jangan sampai kegiatan yang berskala besar namun biaya yang tersedia tidak cukup.

6 Berorientasi praktis

Orientasi PRA adalah pemecahan masalah dan pengembangan program. Dengan demikian dibutuhkan penggalian informasi yang tepat dan benar agar perkiraan yang tepat akan lebih baik daripada kesimpulan yang pasti tetapi salah, atau lebih baik mencapai perkiraan yang hamper salah daripada kesimpulan yang hampir benar.

7. Keberlanjutan program

Pengenalan masyarakat bukan usaha yang sekali kemudian selesai, namun merupakan usaha yang berlanjut. Bagaimanapun juga program yang mereka kembangkan dapat dipenuhi dari prinsip dasar PRA yang digerakkan dari potensi masyarakat.

8. Mengutamakan yang terabaikan

Prinsip ini dimaksudkan agar masyarakat yang terabaikan dapat memperoleh kesempatan untuk berperan dan mendapat manfaat dalam kegiatan program pembangunan. dengan mengutamakan golongan paling miskin agar kehidupannya dapat meningkat.

9. Pemberdayaan (Penguatan) masyarakat

Kemampuan masyarakat ditingkatkan melalui proses pengkajian keadaan, pengambilan keputusan, penentuan kebijakan, peilaian dan koreksi terhadap kegiatan yang dilakukan.

10. Santai dan informal

Penyelenggaraan kegiatan PRA bersifat luwes, tidak memaksa, dan informal sehingga antara orang luar dan masyarakat setempat terjalin hubungan yang akarab, orang luar akan berproses masuk sebagai anggota masyarakat.

11. keterbukaan

Kendala PRA

metode dan teknik dalam PRA terus berkembang, sehingga sangat sulit untuk memberikan definisi final tentang PRA.

Daftar pustaka

http://sudarmadi-agus.blogspot.com/2010/02/planning-methods.html

http://bapeluh.blogspot.com/PRA/pra-participatory-rural-appraisal.html

http://id.shvoong.com/humanities/1947728-participatory-rural-appraisal-pra/

Wahyuni, Sri. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pertanian : perlunya implementasi “Pra”, pendekatan cultural dan structural. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.

Gitosaputro, Sumaryo. Implementasi participatory rural appraisal (pra) dalam pemberdayaan masyarakat


Actions

Information

16 responses

6 06 2010
triana

kasih contoh studi kasus dunk program apa saja yang sudah menggunakan teknik PRA ini
thanx ^_^

6 06 2010
octa vidianti

di sumedang Jawa Barat dilakukan analisis keadaan kampung kita
bina desa setempat menyelenggarakan kegiatan analisis komunitas di desa Cikareo selatan.
kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui keadaan nyata tentang kampungnya, kemudian dapat memahami lebih dalam tentang sebab-sebab suatu peristiwa terjadi, termasuk melihat relasi-relasi (hubungan) yang terjadi di dalam kehidupan komunitas (sosial, ekonomi, budaya, politik), sehingga dapat dilakukan suatu perubahan ke arah yang lebih baik.
Dengan PRA diharapkan kita juga dapat melihat misalnya bagaimana pemerintah, lembaga-lembaga sosial, bahkan media massa dapat mempengaruhi kehidupan komunitas pedesaan. PRA juga memberi gagasan bagaimana kita melihat hubungan-hubungan tersebut berlangsung.

6 06 2010
lulu

memang dalam pemilihan metode perencanaan saat ini haruslah menggunakan metode bottom up seperti itu… selanjutnya yg harus dilaksanakan adalah monitoring partisipasif nya sudah benar2 tersampaikan ap belum…

6 06 2010
fadel muhammad

Sebenarnya beberapa metode perencanaan pembangunan yang partisipatif sudah lama sekali diterapkan di Indonesia. Namun terkadang hasil akhir yang diharapkan masyarakat kurang tepat sasaran sehingga dianggap tidak merepresentasikan apa yang menjadi masalah di masyarakat pada umumnya. Hal ini mungkin saja dikarenakan belum tercakupnya peran masyarakat di setiap proses pembangunan.

Kita ambil contoh saja di dalam musrenbang yang dilaksanakan di Indonesia. Dimana musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) adalah forum multi-pihak terbuka yang secara bersama mengindentifikasi dan menentukan prioritas
kebijakan pembangunan masyarakat. Dimana forum ini dilaksanakan dari tingkat terkecil yakni desa sampai kabupaten/kota. Namun apa?masih saja terdapat kekurangan di dalam tahap implementasinya. Masyarakat merasa hasil dari musrenbang tidak prioritas dan masih dapat dilaksanakan di tahun2 k depan. Jadi apakah peran partisipatif masyarakat yang sebenarnya? Peran partisipatif masyarakat di dalam perencanaan pembangunan di Indonesia yakni melibatkan masyarakat di setiap proses pembangunan sehingga sesuai dengan Undang-Undang No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah; yakni meletakkan partisipasi masyarakat sebagai
elemen penting untuk mencapai tujuan kesejahteraan masyarakat; menciptakan rasa memiliki masyarakat dalam
pengelolaan pemerintahan daerah; menjamin terdapatnya transparansi, akuntabililitas dan kepentingan umum;
perumusan program dan pelayanan umum yang memenuhi aspirasi masyarakat.

6 06 2010
octa vidianti

setuju sekali..
karena dalam perencanaan partisipatif seharusnya masyarakat dilibatkan dalam semua proses.. khususnya pengembangan pedesaan ini.
karena yang mengetahui informasi, kondisi, karakteristik wilayah maupun sosial adalah masyarakat desa itu sendiri
thanx atas tambahan infonya ^.^

6 06 2010
Aditya Gunarsa

Sebenarnya metode ini memang sangat memungkinkan untuk diterapkan d Indonesia. Dengan latar belakang budaya negara kita yang sedemikian beraneka ragam. Namun yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh metode ini dapat mengakomodasi pendapat masyarakat, dan mungkin masala atau kebijakan yang dapat diterapkan dengan metode hanya kebijakan tertentu saja, artinya metode ini tidak dapat diterapkan secara general.

6 06 2010
octa vidianti

teknik ini dapat dilaksanakan sesuai dengan namanya adalah pengembangan dan pembangunan desa dengan partisipasi masyarakat.

6 06 2010
Khoirul

Metode seperti ini memang sangat baik diterpakan, karena berprinsip dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat,,dan masyarakat benar-benar dilibatkan dalam suatu program, tapi gimana sih sebenarnya mekanisme dari metode ini..?? dan sejauh mana sih pelibatan masyarkat?? ada batasannya gak ya…???
hehe…

6 06 2010
octa vidianti

mekanismenya dapat dilihat melalui tahapan melakukan PRA
dalam teknik ini masyarakat diikutsertakan dalam semua proses perumusan kebijakan atau perencanaan.
menurut sya tidak ada batasan sejauh mana masayarakat bisa berpartisipasi.

6 06 2010
freddaging

selain itu kelanjutan dari metode bottom up ini harus di perhatikan benar2 agar hasil pembangunan yg dilaksanakan bisa berjalan sesuai harapan.kan yg terpenting dari monitoring partisipatif tuh kelanjutan setelah pembangunan..

check n give comment my blog http://freddaging.wordpress.com

6 06 2010
yoks

ooh,…PRA,… aku dulu gunakan metode ini untuk nyusun Strategi Rencana Tindak Pengurangan Kemiskinan,…syukur sekarang udah di adopsi oleh pemkab lamongan,….dan hasilnya dianggap sebagai terobosan dibidang penegntasan kemiskinan daerah,…sampek dapat otonomi award.

cuman metode ini butuh waktu yang relatif panjang dibanding riset lainnya, jadi kudu sabar dan cermat, sebab yang berlaku bukanlah sudut pandang kita tapi murni sudut pandang masyaralat/peserta,…ok.

6 06 2010
octa vidianti

terimkasih kak atas tambahan infonya ^_^

6 06 2010
meidyas

selamat sore..
saya ingin menanyakan, bagaimanakah alur pelaksanaan Participatory Rural Appraisal (PRA)?
terimakasih.

6 06 2010
octa vidianti

tahapan / alur PRA sebagai berikut :
1. Pengenalan masalah/kebutukan dan potensi serta penyadaran;
2. Perumusan masalah dan penetapan prioritas;
3. Identifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah/pengembangan
gagasan;
4. Pemilihan alternatif pemecahan masalah yang paling tepat;
5. – Perencanaan penerapan gagasan;
– Penyajian rencana kegiatan;
6. Pelaksanaan pengorganisasian;
7. Pemantauan dan pengarahan kegiatan;
8. Evaluasi dan rencana tindak lanjut;

hasil evaluasi ini dapat dijadikan sebagai input untuk perencanaa selanjutnya

6 06 2010
atikazahra

Gak tau mesti Comment apa nih… hehehe
Tapi berbagai macam metode participatory monev and planning banyak banget ya…
hemmm… disebutkan di atas kalo metode PRA nih terus mengalami perkembangan. Sejauh ini perkembangan apa aj yang telah dicapai dalam metode PRA ini sih??

6 06 2010
Arief Hidayat

boleh nanya g,, apa sih bedanya PRA dengan PNPM atau RP4D??? kan sm2 perlibatan masyarakat bahkan masyarakat pelaku utama,,,,, apa itu wujud perwujudannya ato gmn??? maaf masih awam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: